Selasa, 08 November 2011

Penyesalan seorang ibu yang tiada guna


Ketika saya sedang santai makan siang di kantor, Iseng saya cek Milis dengan nama yg sedikit aneh tapi unik. lalu ada salah satu email dengan judul Aku Ingin Bunda Yang Memandikan,.. setelah membaca dan merenung, tidak terasa air mata saya mengalir karena topik dan tema dari isi cerita sangat menyentuh hati.. mudah mudahan bermanfaat dan dapat di jadikan bahan renungan bagi kawan kawan semua. Di bawah ini adalah salah satu contoh cerita tragis. Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang dimilikinya sampai akhirnya…..

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. Why not the best”, katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika. Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.
 
Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel” sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
 
Anak-Bunda1
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suaminya meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah di kitab suci Al-qur’an. ”Alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir…

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak Garuda Airlines, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.
Setulusnya saya pernah bertanya, ”Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ” Dengan sigap Rani menjawab, ”Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu betul-betul ia buktikan.

Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadwal Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti. Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan Ayah-Ibunya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan tentang uang yang banyak.

”Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan diakhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocahkecil ini ”memahami” orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani kerap menyapanya ”Malaikat kecilku”.

Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini…
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter.
”Alif ingin Bunda yang memandikan,” ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar.. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya terlihat sedih…

Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan.. ”Bunda, aku ingin dimandikan sama bunda!” kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.
 
Jenazah
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ”Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.” Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late…!! Allah Swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya. Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia terlihat begitu shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat ingin memandikan anaknya sendiri. AnakMandiBunda

Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski tubuh si Alif kecil telah terbaring kaku. ”Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha
menyembunyikan tangis mereka….

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara makam Alif. Berkali-kali Rani sahabatku yang tegar itu, berkata, ”Ini sudah takdir, ya kan . Sama saja, aku di sebelahnya atau pun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan ?” seolah bertanya, tapi Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong….”Ini konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat.
 
PemakamanZenasah
Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja diarea makam….. Tiba-tiba Rani berlutut dan menjerit… ”Aku Ibunyaaa…!!!” serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ”Bangunlah nak, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekaliiiiiii saja, Aliiiiiifff……..” Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup diatasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Dan senja
pun makin tua.

Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong. Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat. Sering kali orang sibuk ‘di luaran mencari uang’, asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang2 didekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu ‘nanti’ pikir mereka, jadi abaikan saja dulu….
Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada. Sungguh Pelajaran yang sangat menyedihkan.

Semoga yang kawan-kawan yang tengah sibuk mencari uang dan membaca kisah ini bisa mengambil makna yang terkandung dalam kisah ini. Padahal disadari atau tidak, sesungguhnya dalam hidup ini uang bukanlah segalanya, khususnya bagi para wanita modern dizaman ini, bukan kah telah banyak Wanita sukses yang berkarya dari rumah? Tanpa harus meninggalkan buah hati tercinta…Bagaimana menurut Anda, Apakah sependapat dengan Saya??? Silahkan Sampaikan opini Anda pada kolom komentar, Semoga bermanfaat bagi kita semua.

1 komentar:

silahkah tinggalkan komentar